Profil

Profil

Profil

May 19, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Ketika Mas Mansur Berguru ke Kyai Ahmad Dahlan

KH Mas Mansur

YOGYAKARTA — Kyai Haji Ahmad Dahlan dilahirkan pada 1 Agustus 1868 di Yogyakarta, sedangkan Kyai Haji Mas Mansur lahir pada 25 Juni 1896 di Surabaya. Usia terpaut 28 tahun, domisili keduanya juga tidak berdekatan. Tapi, ada perasaan sangat kuat pada diri Mas Mansur untuk harus segera bertemu dengan pendiri Muhammadiyah tersebut.

Nama Kyai Dahlan sering didengar ketika Mas Mansur tinggal di Makkah dan Mesir. Tahun 1908 ia dikirim orangtuanya untuk menunaikan ibadah haji dan belajar agama di Makkah. Setelah empat tahun, ia pindah ke Mesir karena situasi politik di Arab Saudi memanas. Sekitar dua tahun kemudian Mas Mansur memutuskan pulang ke tanah air, tapi sebelumnya singgah dulu di Makkah selama satu tahun. Baru pada tahun 1915 pulang ke tanah air.

Di buku “Pahlawan Nasional: Kyai Haji Mas Mansur” tulisan Sutrisno Sukoyo disebutkan bahwa dalam perjalanan pulang ke tanah air tersebut Mas Mansur tidak langsung ke Surabaya tapi memilih ke Yogyakarta menemui Kyai Dahlan. Ketika itu sekitar tiga tahun setelah Muhammadiyah berdiri.

Pada pertemuan pertama ini ada kesan yang amat dalam tentang diri Kyai Dahlan, sehingga Mas Mansur mengibaratkannya sebagai sosok seorang ayah. Wajah tenang dan selalu dihiasi senyuman ketika berbicara menyebabkan lawan bicaranya, termasuk Mas Mansur muda, nyaman berbincang lama dengannya. Meski baru pertema bertemu, Mas Mansur merasa sosok Kyai Dahlan memiliki budi pekerti tinggi.

Namun perjumpaan itu terlalu singkat, Mas Mansur harus segera pulang ke Surabaya. Kyai Dahlan pun menganjurkan jika sudah memiliki waktu luang untuk kembali lagi ke Yogya. Ia ingin membicarakan banyak hal dengan pemuda tersebut, termasuk menyampaikan tujuan mendirikan Muhammadiyah yakni memperbaiki keadaan umat Islam.

Pertengahan tahun 1916 Mas Mansur kembali mengunjungi Kyai Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Kali ini waktunya luang sehingga bisa agak lama tidak seperti pertemuan sebelumnya. Ia ingin bertukar pikiran sekaligus berguru kepada Kyai Dahlan.

Pendiri Muhammadiyah itu menerangkan jika orang perlu kembali kepada tauhid, dan kehidupan umat Islam harus didasarkan pada ketentuan Islam. Alat terbaik untuk memperbaiki umat Islam hanyalah kitab suci Al Qur’an dan Al Hadits, serta dari para ulama terdahulu.

Tapi pencarian terhadap ilmu pengetahuan tetap harus dilakukan, jangan dihilangkan. Salah besar jika ada Muslim menganggap bahwa Islam itu hanya soal shalat atau ibadah. Manusia hidup di dunia, kata Kyai Dahlan, perlu juga dibekali pengetahuan, serta menaruh perhatian akan segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya.

Bagi Mas Mansur, gurunya itu senang sekali mengupas keterangan-keterangan tafsir. Selalu menyelidiki terlebih dahulu makna setiap kata dalam ayat satu per satu. Kemudian hal itu dikaitkan dengan ayat-ayat lain.

Bagi Kyai Dahlan setiap hal yang bersangkutan dengan ibadah harus dikembalikan kepada ketentuan agama. Sedikit pun tidak boleh dilebihkan dan tidak ada yang boleh dikurangi. Meski begitu Sang Kyai tetap memiliki sikap pendekatan ilmiah. Sebelum ilmunya disebar kepada umat, ia seringkali mengadakan penelitian secara teratur agar tidak ada kesalahan dalam penyampaian.

Kyai Dahlan juga selalu menganjurkan sedikit bicara dan banyak bekerja. Biar lambat dan tenang tetapi terus, lebih baik dari pada cepat tetapi terjungkir sesudah beberapa langkah.

Kyai Dahlan wafat 23 Februari 1923, sedangkan KH Mas Mansur wafat pada 25 April 1946. KH Mas Mansur menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah pada periode 1937-1942, setelah KH Hisyam dan sebelum Ki Bagoes Hadikoesoemo. (hr)


Bahan tulisan dikumpulkan dari berbagai sumber.

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here