Profil

Profil

Profil

May 19, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Kenalan dengan Fahrul Nurkolis, Mahasiswa UIN Jogja yang Punya 77 Karya Ilmiah Scopus

YOGYA - Indonesia mempunyai segudang ilmuwan dan cendekiawan yang berkualitas skala internasional. Hal itu terlihat dari berapa banyak karya ilmiah yang terpublikasi dalam jurnal internasional, seperti Scopus. 

Salah satu orang itu adalah Fahrul Nurkolis. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN Jogja) itu menjadi salah satu wisudawan tercepat pada wisuda periode III pada Selasa (14/5).

Pada momentum itu, Ia terpilih menjadi salah satu wisudawan tercepat setelah menempuh pendidikan selama 3 tahun 7 bulan.

"Alhamdulillah, saya bersyukur dapat menjadi salah satu wisudawan terbaik pada periode wisuda saat ini. Tentu, hasil ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, orang tua saya, keluarga, dosen, dan teman-teman seperjuangan,” jelasnya.

Selain prestasi akademik, Fahrul ternyata memiliki prestasi karya tulis yang memukau. Ia tercatat dalam portal international journal telah mempublikasikan sekitar 77 karya ilmiah bereputasi seperti scopus. 

Fahrul menyebut, ia telah mulai menulis sejak kelas 1 SMA.

“Saya sudah mulai menulis sejak kelas 1 SMA, waktu itu saya sering ikut lomba karya tulis, seperti esai, opini, artikel dan jenis karya tulis lainnya. Alhamdulillah, mulai dari sana saya sering menang dan terbiasa menulis hingga saat ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, penulisan jurnal ilmiah telah ia mulai sejak 2019 dan bertahan hingga saat ini akibat lingkungan yang mendukung.

"Sejak 2019, saya sudah mulai tertarik dengan penulisan jurnal ilmiah. Saya didukung oleh lingkungan yang baik untuk memperkuat hobi ini. Terlebih lingkungan ilmiah lintas disiplin ilmu. Saya punya tim khusus menulis yang konsen pada riset isu sains, khususnya bio teknologi. Kolektifitas dalam berkarya ini menjadi pendukung produktifitas dalam menulis,” tambahnya.

Fahrul tertarik dengan dunia tulis menulis, khususnya dunia riset ilmiah dengan alasan ingin membangkitkan iklim riset di Indonesia.

“Saya ingin memulai membangkitkan iklim atau atmosfir riset di Indonesia. Di luar sana, orang sudah berbicara dengan data dan fakta berbasis riset. Di dunia riset biologi khususnya di Indonesia masih sangat minim. Melalui langkah kecil ini, saya berharap dapat memantik ekosistem riset yang lebih baik dan sehat,” tegasnya. (*) 

Berita ini diterima Mediamu dari Gusti Rian Saputra 

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here