Profil

Profil

Profil

May 19, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Ulama Sejuk dari Cabang "Lava Bantal"

H. Dimyati atau biasa akrab dipanggil Mbah Dim adalah ulama kharismatik Muhammadiyah dari ujung Timur Selatan Kabupaten Sleman. Atau tepatnya di Cabang Berbah, yaitu tempat di mana terdapat peninggalan geologi berupa Lava Bantal. 

Beliau sudah terbilang sepuh (tua). Yuswa (usia) beliau saat ini 82 tahun. Dan, Mbah Dim dikaruniai putra 7 dan cucu 16. Alhamdulillah.

Di usia senjanya, Mbah Dim masih cukup energik dan biasa beraktivitas mengendarai motor sendiri. Banyak aktivitas yang beliau lakoni (jalani) sampai saat ini.

Beliau dikenal suka bercanda, berkawan dengan siapa pun dan juga ilmu agama beliau dikenal sangat mumpuni. Karena Mbah Dim merupakan salah satu ulama Muhammadiyah alumni Madrasah Mu’alimin Muhammadiyah Yogyakarta.

Di Berbah, beliau tidak hanya dikenal sebagai ulamanya Muhammadiyah. Namun juga ulamanya warga Berbah pada umumnya. Hal ini karena Mbah Dim dikenal sangat bijaksana dan bisa mengayomi semua warga masyarakat.

Banyak organisasi yan beliau geluti sampai saat ini dan hampir semuanya beliau ditempatkan di posisi kunci (rujukan). Misalnya, di Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kecamatan Berbah, Mbah Dim masih sangat aktif dan sebagai simbol perekat berbagai organisasi yang berhimpun.

Beliau juga menciptakan jargon unik, menarik, namun sangat pas dengan situasi dan kebutuhan, yaitu MANDALIYEM JUKTI NUHKAH = aMAN terkenDALI adem aYEM seJUK di haTI peNUH berKAH. Terlihat rasa bangga pada beliau saat menyampaikan hal itu beserta penjelasannya.

Beliau juga kenal dekat dengan Camat Berbah, yakni Pak Wildan, yang juga adalah kader Muhammadiyah. Bahkan istri Pak Wildan, Bu Ane Permatasari (Dosen UMY) bersahabat dengan Mbak Azizah, putri beliau yang aktif sampai di Pimpinan Pusat Nasyiatul ‘Aisyiyah (PPNA).

Perjalanan hidup Mbah Dim sangat menarik. Beliau berkisah bahwa masa pengabdiannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) — kini Aparatur Sipil Negara (ASN) — sama dengan masa kekuasaan Pak Harto Presiden RI, yaitu sejak Supersemar sampai dengan tahun 1998. “Dadi aku ki yo berkuasa 32 tahun koyo Pak Harto, Le,” demikian disampaikan Mbah Dim dengan gaya candanya.

Beliau juga berkisah bahwa dulu Muhammadiyah Ranting Wotgaleh adalah bagian dari Cabang Kotagede.

Cerita itu kemudian sempat terhenti karena kami harus shalat Ashar bersama Mbah Dim di Masjid Al Huda. Beliau lantas menunjukkan bahwa tempat wudhu di masjid itu adalah sumbangan dari Pak Amien Rais.

Di akhir silaturrahim kami, Mbah Dim berpesan: yang penting pada akhirnya “komitmen terhadap Muhammadiyah”.

“Njih Mbah, Insya Allah,” jawab kami serempak.

Sebelum kami masuk mobil melanjutkan perjalanan, Mbah Dim memberikan “kembang turi’ panenan dari kebun depan rumah kepada kami berlima.

Matur nuwun sanget Mbah Dim. Semoga panjang yuswa dan di lain waktu kami dapat sowan silaturrahim untuk menimba ilmu kembali. (Nur Cahyoprobo)

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here