Profil

Profil

Profil

May 19, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Bangun Puluhan Sekolah di Banyuasin, Mukardi Raih Muhammadiyah Award

YOGYA -  Setiap puncak Resepsi Milad Muhammadiyah diselenggarakan, dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberikan anugerah Muhammadiyah Awards kepada sosok pencerah bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan universal.

Pada Resepsi Milad ke-111 Muhammadiyah, hari Sabtu (4 Jumadil Awwal 1445 H bertepatan 18 November 2023) di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberikan anugerah tersebut kepada Mukardi. Seorang guru Muhammadiyah yang fenomenal, sebab selain mendidik dia juga membangun puluhan sekolah Muhammadiyah di tempatnya mengajar.

Mukardi (55 tahun) lahir dan besar di Tuban, Jawa Timur. Pada tahun 1988, ia pindah ke Sumatera Selatan menjadi guru honorer dan pada 1991 Mukardi diangkat menjadi PNS.

Ketika pindah ke Sumsel, Mukardi melihat sarana pendidikan masih kurang karena belum meratanya pendidikan untuk masyarakat migran di sana. Ditambah daya tampung sekolah negeri kurang sehingga banyak anak-anak di sana tidak sekolah.

"Kondisi pendidikan di sana itu, anak-anak cenderung ikut orang tuanya bekerja di sawah. Untuk bekerja itu kurang peduli orang tuanya, kedua kalinya sekolah negeri itu tidak bisa menampung siswa khususnya yang tingkat SMP,” ungkapnya.

Keterbatasan lain yang membuat anak-anak di sana enggan bersekolah adalah jarak tempuh yang jauh. Dengan medan jalan yang sulit sejauh 10 km, peserta didik menempuhnya dengan berjalan kaki. Apalagi, pada medio 1980 an, kendaraan macam sepeda angin dan motor masih menjadi barang mahal.

“Dengan demikian saya terinspirasi, bagaimana kalau kita mendirikan sekolah swasta untuk mereka yang tidak tertampung di sekolah negeri, bisa mereka bersekolah di sekolah swasta. Alhamdulillah, masyarakat menyambutnya dengan luar biasa,” imbuhnya.

Sekolah pertama yang didirikan Mukardi adalah SMP Muhammadiyah 1 Muara Padang, Kabupaten Banyuasin. Sejak 1980-an sampai 2023 sekarang ini, Mukardi sudah berhasil mendirikan 28 sekolah untuk anak-anak di Banyuasin.

Selain Sekolah Menengah Pertama (SMP), Mukardi juga sudah mendirikan berbagai jenjang sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA), SD/MI Muhammadiyah, sampai dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah.

Dari sekolah-sekolah yang ia dirikan, banyak lulusannya yang berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan menekuni berbagai profesi, dengan sebagian besar menjadi guru. Sehingga, Mukardi bersama kolega juga mendirikan sekolah di tempat lulusan itu mengajar.

"Sehingga, ia (lulusan yang jadi guru-red) juga menjadi generasi kami selanjutnya untuk mengembangkan sekolah yang ada," imbuh Mukardi.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyuasin itu menjelaskan bahwa cara menjaga dan mengembangkan lembaga pendidikan Muhammadiyah di sana melalui penyelenggaraan event bersama. Kegiatan semacam ini menurutnya berhasil menarik minat masyarakat sekitar untuk menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Selain itu, dia juga selalu memikirkan anak-anak dari keluarga yang kurang beruntung. Dia berazam jangan sampai karena masalah kurangnya ekonomi membuat anak dari keluarga tersebut tidak atau berhenti sekolah.

“Maka harus dengan berusaha, jika ada uang pribadi maka akan pakai uang pribadi. Kalau tidak punya, tetap kita cari jalan keluarga. Kita tetap cari jalan untuk membebaskan anak itu sekolah,” katanya.

Dia berterima kasih kepada guru-guru yang dengan segala kekurangan tetap menjaga loyalitasnya untuk lembaga pendidikan Muhammadiyah. Dia tidak memungkiri bahwa gaji guru masih ada yang di bawah standar.

Bahkan di salah satu TK ABA, ada gurunya yang digaji hanya Rp. 80.000 dan dibayarkan ketika wali murid panen padi di sawah. Meski demikian, militansi dari guru-guru Muhammadiyah tidak perlu dipertanyakan lagi.

Mukardi juga selalu belajar tentang keikhlasan dari guru-guru Muhammadiyah di sekolah yang didirikan. Dari mereka, semangat dan keikhlasan membimbingnya untuk terus bergerak menjaga dan mengembagkan jejak amal kebajikan Kiai Ahmad Dahlan.

Sebagai contoh, sebelum ada pemekaran daerah, Mukardi biasa menempuh jarak puluhan bahkan ratusan kilo, dan tidak jarang bermalam di jalan demi menghadiri rapat pimpinan Muhammadiyah.

Dalam perjalanannya, ia menaiki perahu sebagai moda transportasi pilihannya. Alasannya, karena di sana jalan darat masih sulit dilalui, lebih-lebih ketika musim hujan. Sehingga, Mukardi memilih menyusuri sungai.

Dengan segala tantangan yang dihadapi, Mukardi mengaku bersyukur diberi kesempatan untuk memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak bangsa. Bahkan, setelah menerima Muhammadiyah Award, dirinya akan terus mengembangkan sekolah - sekolah di Banyuasin dan sekitarnya.

Terutama, di daerah-daerah yang belum tersentuh lembaga pendidikan lain dan pemerintah, ia usahakan untuk dirikan TK. Mukardi tidak muluk - muluk dengan fasilitas mewah atau semacamnya, bahkan ia pernah mendirikan TK di kolong rumah panggung dan kini TK tersebut sudah punya gedung sendiri.

"Dengan mendirikan sekolah, harapannya bisa membantu masyarakat dalam pelayanan pendidikan. Tentu dari segi mutu masih belum seberapa bagus, tapi paling tidak kami sudah berusaha untuk mendirikan dan memfasilitasinya.

Kepada pemerintah, kalau bisa jangan hanya memikirkan yang ada di kota dengan jumlah sekolah dan siswa yang banyak dengan fasilitas mewah. Tetapi kami yang berada di daerah pelosok dan konon belum tersentuh pendidikan juga perlu diperhatikan," pungkas Mukardi. (*)

 

Wartawan: Dzikril Firmansyah

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here