Profil

Profil

Profil

May 19, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Buya Hamka, Halal Bil Halal dan Jalan Kelam Sesudahnya

Hari ini dan sesudahnya hingga Syawal 1440 Hijriyah berakhir, mungkin akan ada puluhan undangan halal bihalal yang kita terima.

Ya, halal bihalal memang sudah menjadi tradisi yang mengiringi perayaan Idul Fitri bagi kita dan bangsa Indonesia.

Dalam KBBI, halal bihalal berarti hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan. Biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dan sebagainya) oleh sekelompok orang. Sebuah tradisi yang sangat adiluhung karena dalam halal bihalal ada nilai silahturahmi, maaf-memaafkan dan lapang dada.

Banyak versi tentang sejarah asal muasal halal bihalal. Ada yang mengatakan sejarah halal bihalal sudah ada sejak era raja pertama Mangkunegaran Solo, Pangeran Sambernyawa yang kemudian bertahta dengan gelar Mangkunegara I.

Ada pula yang mengatakan halal bihalal dicetuskan oleh sekelompok pemuda Kauman Yogyakarta setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, yang proklamasinya sendiri memang terjadi di saat Ramadhan tahun 1945.

Ada sejarah pula yang menuliskan halal bi halal dikenalkan oleh interaksi KH Wahab Chasbullah dengan Bung Karno saat tahun 1948. Di mana saat itu kondisi bangsa sedang genting akibat perseteruan politik.

Ada pula cerita, yang mengenalkan pertama kali kata halal bihalal adalah pedagang martabak dari India di pasar malam Sriwedari Solo sekitar tahun 1935-1936. Saat itu dia menjajakan martabak dagangannya dengan berteriak “martabak Malabar, halal bin halal, halal bin halal”.

Sejarah halal bihalal juga tidak bisa dilepaskan dari sosok Buya Hamka, tokoh Muhammadiyah dan Masyumi saat itu.

Ketika tahun 1963, selepas Ramadhan beliau diundang oleh Bung Karno ke Istana Negara. Buya Hamka pun memenuhi undangan tersebut dan saat berjabat tangan dengan Bung Karno, beliau berucap “kita halal bihalal”.

Dan dibalas pula oleh Bung Karno “halal bihalal” dengan suara cukup keras hingga terdengar oleh semua yang ada di ruangan Istana Negara tersebut.

Halal bihalal sendiri, menurut Buya Hamka, adalah bertemunya pribadi-pribadi yang suci, yang telah serius menggembleng dirinya dalam bulan Ramadhan.

Sejak tahun 1960 hubungan Buya Hamka dan Bung Karno memang merenggang, bahkan mungkin sampai level memanas. Semua itu karena ulah provokasi PKI.

Bermula dari upaya paksa pembubaran Partai Masyumi berdasar Keppres nomor 200 tahun 1960.

Dalam Keppres tersebut termaktub bahwa dalam 30 hari sesudah keputusan itu diturunkan, pimpinan Partai Masyumi harus menyatakan pembubaran partai. Jika menolak, maka Masyumi akan dinyatakan sebagai partai terlarang.

Pimpinan Masyumi pun akhirnya membubarkan partainya. Partai yang dibentuk dalam konggres Umat Islam 1945 ini pun ditelan prahara sejarah kelam bangsa Indonesia.

Sejak saat itu, PKI bertepuk sorak, merasa di atas angin.

Ulah mereka pun semakin menjadi-jadi menyudutkan Islam dan umat Islam.

Buya Hamka yang saat itu menjadi imam besar Masjid Al Azhar, seolah menjadi pemimpin batin umat islam yang dilanda kegelisahan akibat sepak terjang PKI.

Dalam buku “Perjalanan Terakhir Buya Hamka” halaman 153 dituliskan, “Berkumpullah, dan dikumpulkanlah di Al Azhar segala potensi ummat. Ada beberapa jenderal menjadi pengurus Mesjid Agung Al Azhar waktu itu seperti: Soetjipto Yudodihardjo (Polri), Soedjono (AURI), Syamsul Bahri (ALRI), Mukhlas Rowi (ADRI) dan lain-lain. Berkumpul pula orang-orang kaya (aghniya) Cendekiawan (tehnokrat) dan pemuda-pemudi.

Akhirnya, masjid Agung Al Azhar menjadi kubu pertahanan Islam terhadap komunis-atheis. Tempat pengkaderan ummat Islam. Dimulainya pengajian kaum ibu dan bapak terkenal dengan pengajian Menteng. HMI, PII, PMII, IMM, berganti-ganti melaksanakan TC (training) di Al Azhar.”

Musabab provokasi PKI pula tokoh-tokoh Islam ditangkapi hingga terdengar desas-desus pula Buya Hamka akan ditangkap.

Semula Buya Hamka menepis rumor tersebut. Bukankah selepas Ramadhan tahun 1963 Buya Hamka dan Bung Karno sudah berikrar halal bi halal. Dan beberapa kali bersilahturahmi setelah itu?

Desas-desus itupun akhirnya menjadi kenyataan. Pada 27 Januari 1964 atau 12 Ramadhan 1383 Hijriyah beliau bersama aktivis Masyumi ditahan dengan tuduhan  melakukan makar dan merencanakan pembunuhan atas Presiden Soekarno.

Dalam buku yang sama, Perjalanan Terakhir Buya Hamka, halaman 155 dituliskan: “Buya Hamka yakin dia tidak bersalah, sebab laporan itu palsu. Semua punya alibi. Tetapi “scenario” sudah diatur dan mereka harus mengaku. Ada yang sampai batuk keluarkan darah karena pukulan, atau dilistrik. H. Ghazali Syahlan umpamanya, juga H. Dalari Umar benar-benar disiksa. Bertahan disiksa. Memang itulah undang-undang pemeriksaan, harus mengaku, menurut scenario itu.”

Meskipun yakin tidak bersalah, tapi Buya Hamka akhirnya memilih untuk mengaku. Beliau memilih “mengaku” daripada disiksa, karena merasa lebih membutuhkan tangan dan otaknya agar tidak rusak.

Jika tangan dan otaknya rusak, maka beliau tidak akan bisa menulis dan berpikir lagi.

Manusia bisa saja membuat makar, tetapi makar Allahlah yang paling hebat.

Selama dua tahun dipenjara beliau bisa merampungkan karya fenomenal beliau, tafsir Al Azhar.

Sejarah pun menorehkan setelah 2 tahun beliau dipenjara, Presiden Soekarno lengser dan PKI dibubarkan dan menjadi partai terlarang.

Sejarah, bagaikan jalan pulang ke kampung halaman, barang siapa lupa akan sejarah pasti dia akan tersesat. Sejarah pasti berulang. Hanya setting, tokoh dan panggungnya saja yang berganti. Sejarah Buya Hamka akan selalu menjadi pengingat bagi kita semua bahwa penguasa dan musuh-musuh politik Islam dapat saja melakukan tindakan-tindakan tak beradab, memanipulasi, bahkan memenjarakan. Namun, ghirah dan cita Islam di negeri ini tak akan pernah hilang. Sambung-menyambung generasi Islam menjaga dan merawat hingga masyarakat islam yang sebenar-benarnya terwujud di bumi Nusantara ini, keberkahan Allah pun datang dari bumi dan langit. Indonesia menjadi negeri gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja. (*)

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here